Wellcome to my Blog

THANKSS FOR COMING

Mengenai Saya

Foto saya
saya itu........ teman yang baik untuk bercerita untuk berkeluh kesah dan syukur alhamdulillah sekarang saya dianugerahi nikmat untuk bisa melanjutkan study saya di Universitas Negeri Semarang dan diterima sebagai mahasiswa jurusan pendidikan sosiologi antropologi tercinta....

Kamis, 01 Desember 2011

tugas sosiologi agama mengenai prosesi ritual masyarakat



TUGAS SOSIOLOGI AGAMA
TENTANG RITUAL PEMOTONGAN RAMBUT GEMBEL DI DESA DIENG KABUPATEN BANJARNEGARA
Seperti yang kita ketahui mengenai adanya ritual-ritual disetiap daerah yang ada dimasyarakat Indonesia. Seperti halnya didaerah saya di Kabupaten Banjarnegara yang juga memiliki ritual atau upacara adat yang disakralkan oleh masyarakat yaitu prosesi pemotongan rambut gembel di desa dieng Kabupaten Banjarnegara. Kegiatan atau prosesi upacara tersebut dilakukan karena masyarakat dieng percaya apabila dengan melaksanakan hal tersebut dapat menghindarkan penduduk desa khusunya didaerah dieng dan sekitarnya agar tidak terkena bencana atau malapetaka. Secara persisnya dapat dijelaskan bahwa Rambut gimbal atau rambut gembel yang melekat pada anak-anak di kawasan tinggi Dieng dianggap sakral. Proses pemotongan rambut ini tidak boleh dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara istimewa. Bahkan sebelum dipotong, orang tua atau pemilik hajatan harus menuruti permintaan sang anak dan wajib dipenuhi, apabila tidak, dipercaya bisa memunculkan balak. Dalam prosesinya pemotongan rambut gimbal adalah Kemarin (11/7) sebanyak 8 anak-anak berambut gimbal mirip bob marley yang berasal dari lereng Dieng meliputi Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara dilakukan pemotongan rambut yang disebut merupakan titipan dari kyai Kolodete, seorang tokoh yang dipercaya telah membuka kawasan dataran tinggi itu.
Proses pemotongan rambut gimbal digelar pagi sekitar pukul 10.00 anak-anak gimbal dengan menggenakan kelebat dan ikat kepala putih diusung keliling dengan rute pemukiman warga- komplek candi Dieng hingga Telaga warna menggunakan dokar dikawal dengan barisan para tokoh dan sesepuh desa dan diringi kelompok kesenian.
Setelah berjalan dari pemukiman warga, para ank-anak tersebut kemudian di bawa ke sumur Maerokoco, yang letaknya berada di komplek candi Dieng. Disana ritual dipimpin oleh Mbah Sunaryo dan Mbah Rusamanto. Kedua sesepuh itu kemudian melakukan doa di depan lubang sumur sebelum mengambil air untuk membasuh rambut dan muka anak-anak gimbal tersebut.
Setelah proses pengambilan dan pensucian selesai. Delapan anak tersebut kemudian diusung dengan cara dibopong orang tua masing-masing ke kawasan candi Dieng tepatnya didepan candi Arjuna. di tempat ini,selain telah disediakan tempat pemotongan rambut juga telah digelar  makanan sesaji berikut barang-barang yang menjadi permintaan para anak gimbal.
Pemotongan rambut gimbal dilakukan satu persatu, sebelum dilakukan pemotongan  rambut, sesepuh desa tersebut akan mengantarkan dengan menyampaikan umur berikut sesuatu yang diminta oleh sang anak gimbal. Bentuk permintaan yang diminta oleh 8 anak tersebut cukup aneh, diantaranya ada yang meminta kepala ayam yang sudah dimasak berjumlah 100 biji, kambing dombos betina,ayam jago dua ekor, serta ada yang meminta gembus satu tampah. Wujudnya sebelum di potong rambutnya anak-anak tersebut diminta mengecek sesuatu yang mereka minta.
Sedangkan proses penyucian anak sebelum dipotong menggunakan air suci maerokoco yang dipercaya sebagai tetesan sumber sungai serayu merupakan bagain penting dalam mengembalikan rambut gimbal yang kepada sang pemilik yakni Nyai ratu kidul (ratu selatan) yang dititipkan melalui Kolodete.
Apabila kita kaji dan kita pelajari dengan sudut pandang teori fungsionalisme yang dikatakanoleh emile Durkheim bahwa ada satu hal yang selalu ada dalam segala macam gagsan dan perilaku keagamaan makhluk manusia, yaitu perasaan atau sentiment bahwa hal-hal yang bersangkutan dengan religi atau agama itu bersifat keramat (sacre), berbeda dengan hal-hal yang tidak bersangkutan dengan religi atau agama, yaitu yang bersifat profane (profane). Dengan demikian  ia sampai pada suatu definisi kerja mengenai religi, yang disitu dikatan bahwa suatu religi itu adalah suatu system berkaitan dari keyakinan-keyakinan dan upacara-upacara yang keramat, artinya yang terpisah dan pantang, keyakinan-keyakinan dan upacara yang berorientasi kepada suatu komunitas moral, yang disebut umat.

1 komentar:

  1. isi artikel sebenarkan bagus tetapi ukuran fontnya terlalu kecil.

    BalasHapus